Minggu, 27 Mei 2012

PENGENALAN JENIS IKAN DAN IDENTIFIKASI

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Menurut UU No. 45 Tahun 2009, ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Pengertian ikan meliputi Ikan bersirip (Pisces); Udang, rajungan, kepiting dan sebangsanya (Crustacea); Kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput dan sebangsanya. (Mollusca); Ubur-ubur dan sebangsanya (Coelenterata); Teripang, bulu babi dan sebangsanya.(Echinodermata); Kodok dan sebangsanya (Amphibia); Buaya, penyu, kura-kura, biawak, ular air dan sebangsanya (Reptilia); Paus, lumba-lumba, pesut, duyung dan sebangsanya (Mammalia); Rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya dalam air (Algae); dan biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tersebut diatas termasuk dalam kategori ikan (Anonim, 2011).
Keanekaragaman jenis ikan (Pisces) di Indonesia sangat tinggi, sedikitnya terdapat 7.000 jenis baik ikan laut maupun tawar. Untuk menentukan berapa jumlah jenis tersebut maka dibutuhkan suatu keahlian bidang taksonomi (Biosistematik). Salah satu bagian penting dari taksonomi adaah Teknik Identifikasi. Dalam pelaksanaannya, mengidentifikasi suatu jenis ikan bukanlah hal yang mudah karena memerlukan suatu metoda, peralatan tertentu (kaliper, kaca pembesar, mikroskup, dan lainnya); buku atau pustaka mengenai taksonomi, pengenalan jenis, dan pustaka terkait (Haryono, 2009).
Deskripsi terhadap setiap jenis yang ditemukan dilakukan berdasarkan metoda konvensional. Pengukuran menggunakan kaliper digital meliputi panjang standar (SL), panjang total (TL), panjang sebelum sirip punggung, panjang sebelum sirip perut, panjang sebelum sirip dubur, dan sebagainya.
Data meristik yang dihitung meliputi jumlah sisik pada bagian tubuh tertentu dan jumlah jari-jari sirip, diantaranya jumlah sisik pada gurat sisi, jumlah sisik sebelum sirip punggung, jumlah sisik melintang badan, jumlah sisik pada pangkal ekor; jumlah jari-jari pada sirip punggung, sirip dubur, sirip dada dan yang lainnya (Anonim, 2010).
Identifikasi merupakan kegiatan untuk mencari dan mengenal ciri-ciri yang beraneka ragam dari individu-individu. Kemudian mencari perbedaan-perbedaan yang mantap sifatnya diantara individu-individu yang nampaknya sama. Identifikasi Ikan mungkin menjadi cukup sulit dilakukan oleh orang kebanyakan. Saat identifikasi hanya mengandalkan pola warna (colour pattern) hal ini tidak dapat dijadikan sebagai acuan, mengingat warna dapat saja berubah berdasarkan atas umur individu, maupun kondisi phisiologis dari ikan tersebut.  Karakter penting untuk identifikasi ikan juga meliputi jumlah dari spine,dan rays pada sirip yang berbeda, jumlah sisik sepanjang linea lateralis, bentuk kepala, bentuk sirip, dan lain sebagainya (Taufik, 2011).
Identifikasi atau determinasi pada umumnya dilakukan dengan urutan sebagai berikut : (1) Penggunaan kunci pendahuluan untuk mencari sub-kelas, ordo dan familia; (2) Penggunaan kunci untuk mencari genus dan species, apabila dapat memperoleh monografi atau publikasi fauna yang mutakhir; (3) Pencocokan atau penyesuaian dengan katalog dan bibliografi (sumber literatur) lain yang diterbitkan paling mutakhir; (4) Pencocokan dengan deskripsi yang asli; dan (5) Pembandingan dengan tipe specimen yang ada (Anonim, 2011).

1.2  Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum adalah pengenalan dan pengelompokan jenis ikan hias, ikan hidup secara alami, ikan budidaya serta identifikasi ikan yang meliputi penghitungan data meristik dan data morfometrik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Ikan Platy


 


 
Klasifikasi :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Subphylum      : Vertebrata
Class                : Osteichtyes
Sub kelas         : Achnoptyrygii
Ordo                : Cypinodonitifames
Family             : Poecilidae
Genus              : Xiphophorus
Spesies            : Xiphophorus maculates
Platy berada  di sungai-sungai di Amerika Tengah. Ikan ini mempunyai warna yang indah dan beragam varietas. Varietas yang umum adalah Scerdtail, Highfin, Mickey mouse, Tutedo dan Radweg. Ikan ini mudah dipelihara dan sangat lemah. Tara-rata ikan ini berukuran 5 cm dan platy betina berukuran lebih besar dari pada yang jantan. Platy ekor pedang (Xiphorus xiphidum) variasi warna-warna utama berupa merah dan jingga ditemukan pada jenis highfin (Anonim, 2011).

2.2 Ikan Kembung


 















Klasifikasi :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Subphylum     : Vertebrata
Kelas            : Condrichhyes
Ordo             : Scombriformes
Family          : Scombridae
Genus          : Scomber
Species           : Scomber canagorta
Ikan kembung (Scomber canagorta) tergolong ikan pelagik yang menghendaki perairan yang bersalinitas tinggi. Ikan kembung suka hidup secara bergerombol dan kebiasaan makan adalah memakan plankton yang besar/kasar (Copepode atau Crustacea). Ikan kembung (Scomber canagorta) memiliki rahang, tubuh bilateral simetris, mulutnya terminal dan memiliki tutup insang. Ikan kembung juga memiliki linea lateralis, rudimeter, finlet, memiliki lubang hidung dua buah (dirhinous), bersisik dan tidak memiliki sunggut, ikan kembung juga memiliki satu buah sirip punggung, dua buah sirip perut, pectoralis, sirip anal dan sirip ekor bercagak (Anonim, 2011).


2.3 Ikan Tongkol


 









Klasifikasi :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Sub Phylum     : Vertebrata
Class                : Pisces
Sub Class        : Teleostei
Ordo                : Percomorphi
Family             : Scombridae
Genus              : Euthynnus
Species            : Euthynnus affinis
Ikan Tongkol merupakan salah satu jenis ikan pelagis artinya hidup dilapisan atas dari suatu perairan. Bentuk badanya memanjang yang kedua ujungnya meruncing, mempunyai dua sirip punggung dan 7-8 finlet. Dari bentuk ikan adanya dua sirip punggung dan banyaknya finlet ini menujukan ikan tongkol termasuk jenis ikan perenang cepat. Di indonesia, ikan ini banyak membentuk gerombolan-gerombolan besar terutama di perairan indonesia timur dan samudra Indonesia. Termasuk ikan pelagis perenang cepat sehingga untuk menangkapnya alat yang digunakan harus dioperasikan dengan kecepatan yang memadai (Anonim, 2011).
2.4 Ikan Mujair


 









Klasifikasi :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Actinopterygii
Ordo                : Perciformes
Famili              : Cichlidae
Genus              : Oreochromis
Spesies            : Orechromis mossambicus
Ikan mujair mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam (salinitas), sehingga dapat hidup di air payau. Jenis ikan ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang relatif cepat, tetapi setelah dewasa kecepatannya ini akan menurun. Mujair juga sangat peridi. Ikan ini mulai berbiak pada umur sekitar 3 bulan, dan setelah itu dapat berbiak setiap 1½ bulan sekali. Setiap kalinya, puluhan butir telur yang telah dibuahi akan ‘dierami’ dalam mulut induk betina, yang memerlukan waktu sekitar seminggu hingga menetas. Hingga beberapa hari setelahnya pun mulut ini tetap menjadi tempat perlindungan anak-anak ikan yang masih kecil, sampai anak-anak ini disapih induknya (Anonim, 2011).

2.5 Ikan Bandeng
 












Klasifikasi :














Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Actinopterygii
Ordo                : Gonorynchiformes
Famili              : Chanidae
Genus              : Chanos
Spesies            Chanos chanos
Ikan bandeng memiliki nama latin Chanos chanos, merupakan ikan campuran antara air asin dan air tawar atau payau. Ikan ini dapat hidup sampai ke pinggiran dan tengah laut kemudian secara kontinyu akan kembali ke perairan dangkal atau tepi pantai untuk bertelur. Ciri-ciri fisik ikan bandeng mempunyai penampilan yang umumnya simetris dan berbadan ramping, dengan sirip ekor yang bercabang dua. Seluruh permukaan tubuhnya tertutup oleh sisik yang bertipe lingkaran yang berwarna keperakan, pada bagian tengah tubuh terdapat garis memanjang dari bagian penutup insang hingga ke ekor. Selaput bening menutupi mata, mulutnya kecil dan tidak bergigi, terletak pada bagian depan kepala dan simetris (Anonim, 2011).

2.6 Ikan Sarden
 













Klasifikasi :














Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Actinopterygii
Ordo                : Clupeiformes
Famili              : Clupeidae
Genus              : Sardinella
Spesies            Sardinella sirin
Ikan yang berukuran kecil dan ramping, panjang tubuh sekitar 15 cm atau kurang, namun ada pula yang dapat mencapai lebih dari 20 cm. Lemuru biasanya hampir silindris, dengan tinggi tubuh (body depth) sekitar 25% panjang standar. Tembang bertubuh lebih lebar dan pipih, dengan tinggi tubuh sekitar 30% panjang standar. Sirip punggung berukuran sedang, di tengah tubuh, kira-kira sejajar dengan sirip perut. Sirip ekor berbagi dalam. Sisi bawah tubuh berlingir (berlunas tajam). Lemuru dan tembang sering ditemukan berenang dalam kelompok besar, dekat permukaan laut tidak jauh dari pantai (pesisir). Lemuru diketahui memangsa plankton (fitoplankton dan zooplankton), terutama kopepoda. Ikan-ikan ini dilengkapi dengan tapis insang (gill rakers, sisir insang) untuk menyaring makanannya (Anonim, 2011).

2.7 Ikan Pari
 












Klasifikasi :














Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Chondrichthyes
Subkelas          : Elasmobranchii
Genus              : Myliobatiformes
Famili              : Dasyatidae
Genus              : Himantura
Spesies            Himantura varnak
Ikan pari merupakan salah satu jenis ikan yang termasuk kelas Elasmobranchii. Ikan ini dikenal sebagai ikan batoid, yaitu sekelompok ikan bertulang rawan yang mempunyai ekor seperti cambuk. Ikan pari memiliki celah insang yang terletak disisi ventral kepala. Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala. Bagian tubuh sangat pipih sehingga memungkinkan untuk hidup di dasar laut. Bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal Pada beberapa spesies, ekor ikan pari dilengkapi duri penyengat sehingga disebut 'sting-rays', mata ikan pariumumnya terletak di kepala bagian samping (Agustono, 2008).

BAB III
METODE PRAKTIKUM


3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2012 dengan metode observasi atau pengamatan yang kemudian data yang didapatkan menjadi sumber data dalam pembuatan laporan. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah :
1.      Ikan Platy;
2.      Ikan Kembung;
3.      Ikan Tongkol;
4.      Ikan Mujair;
5.      Ikan Bandeng;
6.      Ikan Sarden; dan
7.      Ikan Pari.
Alat yang digunakan dalam praktikum adalah :
1.      Penggaris;
2.      Kertas millimeter;
3.      Kamera Digital;
4.      Alat Tulis;
5.      Timbangan Analog dan Digital;
6.      Nampan atau Baki;
7.      Kain Serbet; dan
8.      Tissue.

3.3 Prosedur Praktikum
Prosedur pelaksanaan praktikum ini adalah :
·         Diletakkan objek pengamatan di atas baki.
·         Diidentifikasi data meristik dan morfometrik ikan yang menjadi objek praktikum. Data meristik meliputi data perhitungan: jumlah jari-jari sirip punggung (D), sirip dada (P), sirip perut (V), sirip dubur (A), dan sirip ekor (C). Sedangkan data morfometrik meliputi: pengukuran panjang tubuh, yaitu panjang total, panjang baku, panjang fork, panjang kepala, lebar badan, panjang sungut, dan panjang duri sirip.
·         Dicatat data meristik dan morfometrik yang telah didapatkan.
·         Digambar ikan yang menjadi objek pengamatan.
·         Diambil foto ikan dengan menggunakan kamera digital.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
a. Data Morfometrik
Tabel 1. Data Morfometrik
Jenis Ikan
TL
FL
SL
HdL
BdH
   Berat
Ikan Platy
5,2 cm
4 cm
3,1 cm
0,8 cm
1,1 cm
0,65 gr
Ikan Kembung
21,8 cm
19,4 cm
18,5 cm
4,9 cm
4,8 cm
110 gr
Ikan Tongkol
23,8 cm
22,5 cm
21 cm
5,8 cm
4,5 cm
150 gr
Ikan Mujair
25,3 cm
24,8 cm
21 cm
9,9 cm
6 cm
320 gr
Ikan Bandeng
27 cm
22,5 cm
20 cm
4,5 cm
5 cm
180 gr
Ikan Sarden
24,5 cm
22,5 cm
20,8 cm
5,5 cm
4,3 cm
130 gr
Ikan Pari
47,5 cm
19 cm
17 cm
8,3 cm
24 cm
350 gr

Keterangan :
TL       : Total Length (Panjang Total).
FL       : Fork Length (Panjang Fork).
SL       : Standard Length (Panjang Baku).
HdL    : Head Length (Panjang Kepala).
BdH    : Body Hight (Lebar atau Tinggi Badan).
Berat   : Bobot tubuh ikan.


b. Data Meristik
Tabel 2. Data Meristik
Jenis Ikan
D
P
V
A
C
BM
MB
Ikan Platy
15
9
4
4
27
0,1 cm
-
Ikan Kembung
III. 4
IV. 10. 4
V. 10
II. 9
VII. 6. 16
3 cm
2
Ikan Tongkol
VI. 8. 6
II. 16
II. 8. 6
II. 9
XII. 8. 6
2 cm
-
Ikan Mujair
XVII. 12
II. 22
II. 7
II. 11
14
2,5 cm
2
Ikan Bandeng
13
15
11
7
28
1,7 cm
-
Ikan Sarden
D1. IX
D2. 10. 5
8. 7
2. 3
6. 9
16
3,5 cm
2
Ikan Pari
VII
110
-
-
20
1,5 cm
6

Keterangan:
D         : Dorsal Fin (Sirip Punggung).
P          : Pectoral Fin (Sirip Dada).
V         : Ventral Fin (Sirip Perut).
A         : Anal Fin (Sirip Dubur).
C         : Caudal Fin (Sirip Ekor).
BM      : Bukaan Mulut.
MB      : Mata Bajak.

4.2 Pembahasan
Berdasarkan data pada tabel, ikan Platy memiliki data meristik yaitu pada sirip punggung terdapat 15 jari-jari lemah, sirip dada terdapat 9 jari-jari lemah, sirip perut terdapat 4 jari-jari lemah, sirip anus terdapat 4 jari-jari lemah, sirip ekor terdapat 27 jari-jari lemah dan jumlah sisik pada linear lateralis 31. Sedangkan data morfometrik ikan Platy, yaitu panjang total 5,2 cm, panjang fork 4 cm, panjang baku 3,1 cm, panjang kepala o,8 cm, lebar badan 1,1 cm, dan berat 0,65 gram.
Berdasarkan data pada tabel, ikan Kembung memiliki data meristik yaitu pada sirip punggung terdapat 3 jari-jari keras dan 4 jari-jari lemah mengeras, sirip dada terdapat 4 jari-jari keras, 10 jari-jari lemah mengeras dan 4 jari-jari lemah, sirip perut terdapat 5 jari-jari keras dan 10 jari-jari lemah mengeras, sirip anus terdapat 2 jari-jari keras dan 9 jari-jari lemah mengeras, sirip ekor terdapat 7 jari-jari keras, 6 jari-jari lemah mengeras dan 16 jari-jari lemah, 2 buah mata bajak dan jumlah sisik pada linear lateralis 41. Sedangkan data morfometrik ikan Kembung, yaitu panjang total 21,8 cm, panjang fork 19,4 cm, panjang baku 18,5 cm, panjang kepala 4,9 cm, lebar badan 4,8 cm, dan berat 110 gram.
Berdasarkan data pada tabel, ikan Tongkol memiliki data meristik yaitu pada sirip punggung terdapat 9 jari-jari keras dan 4 jari-jari lemah mengeras dan 6 jari-jari lemah, sirip dada terdapat 18 jari-jari lemah mengeras, dan 16 jari-jari lemah, sirip perut terdapat 2 jari-jari keras dan 10 jari-jari lemah mengeras, sirip anus terdapat 1 jari-jari keras, 15 jari-jari lemah mengeras dan 6 jari-jari lemah, sirip ekor terdapat 12 jari-jari keras, 8 jari-jari lemah mengeras dan 14 jari-jari lemah, 2 buah mata bajak dan jumlah sisik pada linear lateralis 65. Sedangkan data morfometrik ikan Tongkol, yaitu panjang total 23,8 cm, panjang fork 22,5 cm, panjang baku 21 cm, panjang kepala 5,8 cm, lebar badan 4,5 cm, dan berat 150 gram.
Berdasarkan data pada tabel, ikan Mujair memiliki data meristik yaitu pada sirip punggung terdapat 17 jari-jari keras dan 12 jari-jari lemah mengeras, sirip dada terdapat 2 jari-jari keras, dan 22 jari-jari lemah mengeras, sirip perut terdapat 2 jari-jari keras dan 7 jari-jari lemah mengeras, sirip anus terdapat 2 jari-jari keras dan 11 jari-jari lemah mengeras, sirip ekor terdapat 14 jari-jari lemah mengeras dan 6 jari-jari lemah, 2 buah mata bajak dan jumlah sisik pada linear lateralis 52. Sedangkan data morfometrik ikan Mujair, yaitu panjang total 25,3 cm, panjang fork 24,8 cm, panjang baku 24 cm, panjang kepala 10 cm, lebar badan 6 cm, dan berat 320 gram.
Berdasarkan data pada tabel, ikan Bandeng memiliki data meristik yaitu pada sirip punggung terdapat 13 jari-jari lemah, sirip dada terdapat 15 jari-jari lemah, sirip perut terdapat 11 jari-jari lemah, sirip anus terdapat 7 jari-jari lemah, sirip ekor terdapat 28 jari-jari lemah dan jumlah sisik pada linear lateralis 80. Sedangkan data morfometrik ikan Bandeng, yaitu panjang total 27 cm, panjang fork 22,5 cm, panjang baku 20 cm, panjang kepala 4,5 cm, lebar badan 5 cm, dan berat 180 gram.
Berdasarkan data pada tabel, ikan Sarden memiliki data meristik yaitu pada sirip punggung pertama terdapat 9 jari-jari keras dan sirip punggung kedua terdapat 10 jari-jari lemah mengeras dan 5 jari-jari lemah, sirip dada terdapat 8 jari-jari lemah mengeras, dan 7 jari-jari lemah, sirip perut terdapat 2 jari-jari lemah mengerah dan 3 jari-jari lemah, sirip anus terdapat 6 jari-jari lemah mengeras dan 9 jari-jari lemah, sirip ekor terdapat 16 jari-jari lemah dan jumlah sisik pada linear lateralis 160. Sedangkan data morfometrik ikan Sarden, yaitu panjang total 24,5 cm, panjang fork 22,5 cm, panjang baku 20,8 cm, panjang kepala 5,5 cm, lebar badan 4,3 cm, dan berat 130 gram.
Berdasarkan data pada tabel, ikan Pari memiliki data meristik yaitu pada sirip punggung terdapat 7 jari-jari keras, sirip dada terdapat 110 jari-jari lemah, sirip ekor terdapat 20 jari-jari lemah dan 6 mata bajak. Sedangkan data morfometrik ikan Pari, yaitu panjang total 47,5 cm, panjang fork 19 cm, panjang baku 17 cm, panjang kepala 8,3 cm, lebar badan 24 cm, dan berat 350 gram.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari data yang tertera di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu :
  1. Dalam proses identifikasi membutuhkan data meristik dan data morfometrik.
  2. Data meristik berupa jumlah jari-jari sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip dubur, dan sirip ekor.
  3. Data morfometrik berupa panjang total, panjang fork, panjang baku, panjang kepala, dan lebar badan.
  4. Setiap jenis ikan memiliki karakteristik meristik dan morfometrik yang berbeda sehingga dalam pengamatan didapatkan data yang berbeda antara spesies yang berbeda.

5.2 Saran
Dalam rangka perbaikan praktikum selanjutnya, maka terdapat beberapa saran :
  1. Sebelum praktikum berlangsung diharapkan kepada praktikan harus sudah mengetahui prosedur praktikum sehingga tidak terjadi kebingungan.
  2. Pembuatan standarisasi penulisan data hasil praktikum.


DAFTAR PUSTAKA
 

Agustono, P. 2008. Jenis-Jenis Ikan Pari Dari Marga Himantura. Warta Oseanografi; Volume XXII No. 04.
Anonim, 2010. Ikhtiolgi Ikan. http://iktiologi-indonesia.org [23 Maret 2012].
Anonim. 2011. Defenisi Ikan. http://www.inaheart.or.id [22 Maret 2012].
Haryono. 2009. Buku Panduan Lapangan: Ikan Perairan Lahan Gambut. Penerbit LIPI Press. Jakarta.
Taufik, 2011. Teknik Identifikasi spesies Ikan. http://www.bpppbanyuwangi.com [ 22 Maret 2012].